Senin, 14 Oktober 2019

KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI ULAT SUTERA (BOMBYX MORI )

Tugas Penilaian Hutan                                        Medan,        Oktober 2019
KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI
 ULAT SUTERA (BOMBYX  MORI )

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh :
Sahputra Tindaon
171201119
Budidaya Hutan 5
                                                                                     




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL5KjCLpuWl4yNJll3gE4nFsMoF5aoFOsEdXMxBc1oIOAQ-eu8fICH2YODMf-PpvXJsMg4nVcRrE_Iggt_b72gtSnYjIwyxBUjS_pykw_Whw2G3aKDBog8-eVfYynyH0bI672uBQrOXQVA/s1600/Logo_USU.png






PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Ulat sutera adalah ngengat yang memiliki kelenjar sutera sehingga dapat menghasilkan serat sutera. Siklus hidup ulat sutera cepat, hal ini menunjukan bahwa memproduksi benang sutera tidak membutuhkan waktu lama, dan memiliki nilai ekonomi tinggi..
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda       
Sub Filum        : Mandibulata      
Klass                : Insecta
Sub Klass        : Pterygota
Ordo                : Lepidoptera       
Family             : Bombycidae      
         Genus              : Bombyx      
Produksi benang mentah pada tahun 2007 sebesar 65.194 kg/tahun, akan tetapi tahun 2009 mengalami penurunan yaitu 19.212 kg/tahun. Penurunan dipengaruhi keadaan cuaca dan kualitas bibit. Persilangan merupakan salah satu penyelesaian untuk mendapatkan bibit yang berkualitas.Persilangan resiprokal merupakan persilangan untuk mendapatkan bibit unggul. Persilangan resiprokal adalah persilangan dihibrid, yang terdiri dari bibit murni. Bibit unggul menghasilkan kokon berkualitas, sehingga memiliki harga jual tinggi. Pemeliharaan ulat yang intensif menghasilkan kokon yang berkualitas, pertumbuhan ulat sangat mempengaruhi hasil kokon. Pertumbuhan ulat dengan bobot badan tinggi akan menghasilkan kokon yang tebal. Kokon ras Jepang memiliki kokon tebal, produksi kokon tinggi, tetapi rentan terhadap penyakit. memilik lapisan tipis, produksi kokon rendah, dan tahan penyakit.
Pakan ulat sutera perlu diperhatikan  pemeliharaan  ulat  sutera.  Sumber  pakan ulat  sutera harus selalu tersedia setiap saat ketika larva membutuhkan. Pertumbuhan larva, perkembangan larva  dan  reproduksinya  tergantung  dari kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi. Ulat sutera yang memakan daun murbei    akan menghasilkan kokon  dengan  karakter  sutera  yang  berkualitas. Larva ulat sutera mempunyai tanduk anal yang pendek dan memakan daun murbei (Morus sp.). Ulat sutera memiliki bentuk tubuh yang berwarna putih, serta berbulu. Ulat sutera dapat melalukan molting (berganti kulit) pada saat memasuki instar baru. Tubuh ulat sutera dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala memiliki antenna yang terdiri dari tiga segmen pendek, dan bagian mulut terletak ke bawah dan di depan wajah yang terdiri dari sepasang rahang dengan maksila dengan labrum dan labium. Pada bagian perut terdiri dari tiga segmen dengan sepasang spirakel dan tiga pasang kaki toraks.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana karateristik dari ulat sutera (Bombyx  mori )
2.      Bagaimana karakteristik bibit yang bagus dalam perkembangan ulat sutera?
3.     Apa saja manfaat ekonomi dari Ulat sutera (Bombyx  mori )

1.3  Tujuan
1.     Untuk mengetahui karakteristik dari Ulat sutera
2.     Untuk mengetahui karateristik bibit yang bagus dalam perkembangan Ulat sutera
3.     Untuk mengetahui apa saja manfaat ekonomi dari ulat sutera


                                                  BAB II
    ISI
2.1 Karateristik
 Ulat sutera memiliki panjang hingga 10 cm dengan diameter hingga 0,8 cm sebelum menjadi kepompong. Ulat ini juga mempunyai metamorfosis sempurna, dengan setiap generasi melewati 4 stadia, yakni telur, larva atau ulat, pupa, dan ngengat atau kupu-kupu. Pada stadia larva, ulat sutera hanya memakan daun murbei segar yang tidak terkena bahan kimia apapun. Masa ini sebenarnya merupakan masa yang sangat penting untuk sintesis protein sutera dan pembentukan telur. budidaya ulat sutera bisa dibilang susah-susah gampang. Syarat utama budi daya hewan ini yakni penanaman pohon murbei yang luas sebagai pakan utama. Ulat sutera juga tidak menyukai wangi-wangian dan hidup di ruang yang tenang dan tidak berisik sehingga kandang pemeliharaannya ditempatkan jauh dari jalan raya.
Description: Ulat Sutra

Jenis sutra yang paling digemari adalah sutra yang berasal dari kepompong larva ulat sutra murbei (jenis Bombyx mori). Produk hewan alami ini sangat berharga karena kehalusan, kekuatan, dan kemampuan daya isolasinya. Kilauan yang dihasilkan oleh fiber sutra dikarenakan oleh struktur prisma-segitiga didalamnya sehingga memantulkan cahaya dari berbagai sudut.
2.2 karateristik bibit yang bagus dalam perkembangan Ulat sutera
Bibit ulat sutera yang akan dibudidayakan diperoleh dari produsen bibit ulat sutera dalam bentuk telur. Telur ulat sutera yang berukuran sangat kecil, yaitu lebar sekitar 1 mm, panjang 1,3 mm, tebal 0,5 mm dan berat sekitar 0,5 mg menjadikannya sangat rentan sehingga perlu penanganan yang tepat dalam proses penetasan.
Proses penetasan ulat sutera dilakukan dengan melakukan inkubasi pada telur. Inkubasi telur adalah masa perkembangan telur sebelum menetas. Pada proses inkubasi lingkungan dikondisikan sedemikian rupa untuk merangsang penetasan telur ulat sutera. Agar diperoleh presentase penetasan yang tinggi dan penetasan yang serempak, maka temperatur dan kelembapan ruangan inkubasi harus diatur agar mencapai kondisi yang ideal.
Sebelum melakukan proses inkubasi pada telur ulat sutera, terlebih dahulu perlu diketahui ciri-ciri telur yang dapat menetas. Ciri- ciri tersebut adalah :
·           Telur ulat sutera mengalami beberapa tahap perkembangan dan pertumbuhan embrio yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna pada telur selama masa inkubasinya. Telur yang mengalami perubahan warna memiliki kemungkinan besar untuk dapat menetas.
·           Telur yang baru dikeluarkan oleh induknya berwarna kuning muda pada saat pertama diletakan.
·        Setelah treatment (perlakuan), warna telur berangsur berubah menjadi kuning tua, kemudian berwarna coklat muda, coklat tua, hitam, abu-abu tua, abu-abu muda. ·        Telur yang tidak mengalami pembuahan oleh sperma dari induk jantan warnannya tetap kuning muda dan tidak terjadi perubahan warna karena tidak ada pertumbuhan embrio.
Adapun cara inkubasi telur ulat sutera adalah sebagai berikut :
·           Selama inkubasi diperlukan temperatur ruangan 25oC dengan kelembapan 85 % dan pencahayaan 18 jam terang, 6 jam gelap. Untuk mengetahui kekuatan cahaya yang tepat dalam proses inkubasi yaitu diukur dengan kondisi manakala kita masih dapat membaca diruangan itu.
·           Telur yang diterima dari produsen dikeluarkan dari boksnya kemudian dipindahkan ke kotak penetasan yang lebih besar degnan ukuran 30 x 40 cm. Kemudian kotak tersebut dipasangkan jaring penetasan. Jika volume telur yang akan ditetaskan cukup banyak, semua kotak penetasan diletakan pada rak inkubasi. Untuk mengatur pencahayaan, jika perlu disekeliling kotak penetasan dipasang tirai berwarna hitam.
·           Untuk mempertahankan kelembapan dengan kadar 85%, kotak penetasan diletakan diatas kain basah.
·           Dua hari sebelum menetas (H-2), keadaan ruangan harus gelap total. Tirai ditutup, lampu ruangan dipadamkan.
·           Pada hari H tanggal menetas, agar penetasannya serempak, pagi-pagi sekali (pukul 05:00 ) , lampu ruangan dinyalakan dan tirai dibuka.
·           Sekitar pukul 8 pagi ulat yang baru menetas dan sudah berada diatas jaring penetasan, diangkat dari kotak penetasan. Lalu, ulat dipindahkan ke sasak pemeliahraan ulat untuk dilakuakan pemberian makan yang pertama kali (haketate).
·            
2.3  Manfaat ekonomi Ulat sutera
Ulat sutra yang biasanya memakan daun murbei kini dibudidayakan dengan memakan daun singkong karet. Kendati daun singkong karet lebih murah, namun ulat tersebut ternyata mampu menghasilkan serat. Jika dipintal ternyata bisa menjadi kain sutra yang kualitasnya sama bagusnya dengan ulat sutra pemakan daun murbei.Kepompong ulat sutra atau disebut juga kokon, ternyata tengah diupayakan oleh tim peneliti untuk dijadikan komponen utama obat penambah stamina. Kalau untuk membuat benang sutra alami,  kokon atau kepompongnya yang dimanfaatkan.  Sementara ulatnya sendiri ternyata memiliki khasiat yang cukup banyak karena mengandung protein sangat tinggi. Nilai ekonomis ulat sutra sangat tinggi dan dapat menambah prekonomian masyarakat.
Manfaat serat sutera antara lain untuk bahan pakaian yang bermutu tinggi seperti bahan pakaian wanita, kaus kaki wanita, dasi, sapu tangan, untuk keperluan alat - alat rumah tangga seperti kain gorden, seprei, untuk benang jahit, benang sulam, isolasi listrik, kain parasut, senar alat - alat musik, dan lain-lain. Kain sutera terkenal karena keindahan dan kehalusannya. Pakaian dari kain sutera walaupun mahal tetap saja diminati. Ulat sutera mengeluarkan air ludah atau liur yang mengandung protein, itulah bahan pembentukan kokon. Kokon berfungsi sebagai pelindung dari proses perubahan ulat menjadi kepompong sebelum akhirnya menjadi dewasa. Kokon-kokon ini dikumpulkan, kemudian diolah menjadi benang sutera. Selanjutnya benang ini ditenun menjadi kain Disamping menghasilkan kain sutera ulat sutera bermanfaat pula dalam penelitian biologi, ekologi, genetika, fisiologi dan kimia. Manfaat serat sutera adalah sebagai tekstil yang bermutu tinggi, bahan baku payung udara (parasut) dan benang bedah sutera.
Dalam waktu 25 hari - 32 hari, Anda sudah bisa memanen hingga 20 kg kepompong sutera mentah. Rata-rata, satu kokon akan menghasilkan benang sutera sepanjang 1 kilometer. Apabila bibit, pakan, cuaca, dan rumah pemeliharaan ulat mendukung, panen bisa meningkat hingga 40 kg. Masa panennya memang cepat lantaran siklus hidup ulat sutera sejak bayi hingga masa kawin serta bertelur, hanya berlangsung selama sekitar satu bulan, Selain masa panen yang cepat, budidaya ulat sutera juga tak memerlukan lahan yang luas-luas amat. Anda hanya membutuhkan lahan tempat pembesaran ulat sutera seluas 20 meter persegi (m2) sampai 50 m2. Cuma, memang, ulat sutera lumayan rakus melahap daun murbei segar. Minimal, Anda harus menyediakan satu ton daun murbei segar sebagai konsumsi sekitar 25.000 ulat sutera dalam satu siklus atau sejak telur menetas hingga menjadi kepompong.
Selain bisa dimanfaatkan sebagai bahan kain sutra, kepompong ulat sutra atau disebut juga kokon juga dimanfaatkan dalam dunia kecantikan yaitu sebagai bahan pengamplas kulit (scrub) alami. Dari 1 hektar kebun murbei bisa menghasilkan daun murbei  untuk menyuplai makanan sebanyak 3 box telur ulat sutra,. Tiap 10 kg kepompong basah akan menghasilkan 1 kg benang sutra, dan rata-rata 1 kg benang sutra bisa menghasilkan 10 meter kain.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.  Ulat sutera  (Bombyx  mori) adalah ngengat yang memiliki kelenjar sutera   sehingga dapat menghasilkan serat sutera.
2.    Ulat sutera memiliki panjang hingga 10 cm dengan diameter hingga 0,8 cm sebelum menjadi kepompong. Ulat ini juga mempunyai metamorfosis sempurna, dengan setiap generasi melewati 4 stadia, yakni telur, larva atau ulat, pupa, dan ngengat atau kupu-kupu
3.    Ulat sutera  dimanfaatkan sebagai bahan kain sutra, kepompong ulat sutra atau disebut juga kokon juga dimanfaatkan dalam dunia kecantikan yaitu sebagai bahan pengamplas kulit (scrub) alami.
4  Proses penetasan ulat sutera dilakukan dengan melakukan inkubasi pada telur. Inkubasi telur adalah masa perkembangan telur sebelum menetas..
5.    Ulat  sutera  (Bombyx  mori  L.)  merupakan  salah  satu  jenis  serangga  yang  mempunyai  nilai ekonomi  tinggi. 







DAFTAR PUSTAKA
 
Anynomous.2012.culat sutera. universitas sumatera utara (online):tidak dipublikasikan. diakses pada sabtu, 20 september 2014.

Nuraeni,S dan Beta,P.2012. aspek biologis ulatsutera (bombyx mori l.) dari dua sumber bibit di sulawesi selatan.jurnal perennial.vol.4(1): 10-17.

Nunuh,A.2012.serikultur budidaya sutera alam(online): k dipublikasikan. diakses pada sabtu,20 september 2014.



Kamis, 11 April 2019

komoditi kehutanan



Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan                                         Medan,    April  2019

PEMANFAATAN KOMODITI KEHUTANAN
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Oleh :
    Sahputra Tindaon
171201119
HUT 4C












PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019







DAFTAR ISI
                                                                           Halaman
KATA PENGANTAR …................................................................................. i

DAFTAR ISI…….............................................................................................. ii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang …......................................................................................... 1      
1.2. Rumusan Masalah ….................................................................................... 2
              1.3.  Tujuan …..................................................................................................... 2
BAB II. ISI
             2.1 Badak Sumatera dan klasifikasinya.............................................................  3
           2.2. Penyebaran Badak Sumatera........................................................................ .4
            2.3. Populasi Badak Sumatera............................................................................ .5
           2.4. Habitat Badak Sumatera....................................................................... ........6
BAB III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan ...................................................................................... .7

DAFTAR PUSTAKA




KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dapat diselesaikan. Judul dalam Makalah ini adalah “Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)”. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu mengenai manfaat ekonomi sumberdaya hutan yang terdapat pada Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan , Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si atas arahan dan bimbingannya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan dan kemajuan bersama. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.





                                                                                                    Medan, April 2019


                        Penulis







                                             


PENDAHULUAN

Di Indonesia hewan hewan yang terancam punah semakin banyak. Hewan  ini menjadi langka dan terancam punah akibat perubahan kondisi alam, hewan  pemangsa dan juga akibat perburuan yang dilaku kan manusia. Salah satu hewan  yang dikategorikan paling langka di Indonesia adalah badak. Dari 3 jenis badak  yang hidup di Asia, 2 jenis diantaranya hidup di Indonesia. Kedua jenis badak  yang terancam punah tersebut yaitu badak jawa (Rhinoceros Sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhenus sumatrensis). Populasinya di alam saat ini diperkirakan kurang dari 300 ekor. Meskipun demikian, indikasi yang ada menunjukkan jumlah populasi sebenarnya lebih rendah dari perkiraan tersebut. Satwa ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) - dalam daftar mrah spesies terancam lembaga konservasi dunia, IUCN. Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan, meskipun umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat. Badak Sumatera adalah penjelajah dan pemakan buah (khususnya mangga liar dan buah fikus), daun-daunan, ranting-ranting kecil dan kulit kayu. Mereka lebih menyukai dataran rendah, khususnya di hutan-hutan sekunder di mana banyak terdapat sumber makanan yang tumbuh rendah. Badak Sumatera hidup di alam dalam kelompok kecil dan umumnya menyendiri (soliter).
Badak sumatera, juga dikenal sebagai badak berambut atau badak Asia bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis), merupakan spesies langka dari famili Rhinocerotidae dan termasuk salah satu dari lima spesies badak yang masih ada. Badak sumatera merupakan satu-satunya spesies yang terlestarikan dari genus Dicerorhinus. Badak ini adalah badak terkecil, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Tingginya 112-145 cm sampai pundak, dengan panjang keseluruhan tubuh dan kepala 2,36-3,18 m, serta panjang ekornya 35–70 cm. Beratnya dilaporkan berkisar antara 500 sampai 1.000 kg, dengan rata-rata 700–800 kg, meskipun ada suatu catatan mengenai seekor spesimen dengan berat 2.000 kg. Sebagaimana spesies badak Afrika, badak sumatera memiliki dua cula; yang lebih besar adalah cula pada hidung, biasanya 15–25 cm, sedangkan cula yang lain biasanya berbentuk seperti sebuah pangkal. Sebagian besar tubuh badak sumatera diselimuti rambut berwarna cokelat kemerahan. Spesies ini pernah menghuni hutan hujan, rawa, dan hutan pegunungan di India, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Tiongkok. Dalam sejarahnya, badak sumatera dahulu tinggal di bagian barat daya Tiongkok, khususnya di Sichuan. Mereka sekarang terancam punah, dengan hanya enam populasi yang cukup besar di alam liar: empat di Sumatra, satu di Kalimantan, dan satu di Semenanjung Malaysia. Jumlah badak sumatera sulit ditentukan karena mereka adalah hewan penyendiri yang tersebar secara luas, tetapi dapat diperkirakan kalau jumlahnya kurang dari 100 ekor. Ada keraguan mengenai kelangsungan hidup populasinya di Semenanjung Malaysia, dan salah satu populasi di Sumatra mungkin sudah punah. Jumlah mereka saat ini mungkin hanya 80 ekor.[8] Pada tahun 2015, para peneliti mengumumkan bahwa badak sumatera timur di bagian utara Kalimantan (Sabah, Malaysia) telah punah. Dalam sebagian besar masa hidupnya, badak sumatera merupakan hewan penyendiri, kecuali selama masa kawin dan memelihara keturunan. Mereka merupakan spesies badak yang paling vokal dan juga berkomunikasi dengan cara menandai tanah dengan kakinya.

1.2       Rumusan Masalah
1.      Penyebab  kepunahan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)?
2.      Bagaimana penyebaran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)  ?
3.      Bagaimana populasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) ?

1.3       Tujuan Masalah
1.       Untuk mengetahui Populasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
2.       Untuk mengetahui Penyebaran  Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
3.    Untuk mengetahui penyebab Kepunahan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)


BAB II
ISI
2.1  Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Badak Sumatera adalah badak yang memiliki ukuran terkecil dibandingkan semua sub-spesies badak di dunia, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Populasi terbesar dan mungkin paling memadai untuk berkembang biak (viable) saat ini terdapat di Sumatera, sementara populasi yang lebih kecil terdapat di Sabah dan Semenanjung Malaysia. populasinya di alam saat ini diperkirakan kurang dari 300 ekor. Meskipun demikian, indikasi yang ada menunjukkan jumlah populasi sebenarnya lebih rendah dari perkiraan tersebut. Satwa ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) - dalam daftar mrah spesies terancam lembaga konservasi dunia, IUCN. Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan, meskipun umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat
Badak sumatera adalah binatang penyendiri, kecuali pada musim kawin dan selama membesarkan keturunan. Wilayah jangkauan pejantan dapat mencapai 50 km2, sedangkan betina 10–15 km2. Jangkauan para betina tampaknya terpisah oleh jarak, sedangkan jangkauan para pejantan seringkali saling bersinggungan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa badak sumatera mempertahankan wilayah mereka melalui perkelahian. Penandaan wilayah masing-masing dilakukan dengan cara menggores tanah dengan kaki mereka, membengkokkan pohon muda dengan pola yang khas, dan meninggalkan kotoran. Badak sumatera biasanya paling aktif pada saat makan, pada waktu fajar, dan sesaat setelah senja. Pada siang hari, mereka berkubang dengan cara mandi lumpur untuk mendinginkan tubuh dan beristirahat. Saat musim hujan, mereka pindah ke tempat yang lebih tinggi; pada masa-masa yang lebih dingin, mereka kembali ke daerah yang lebih rendah dalam wilayah jangkauan mereka. Kalau lubang lumpur tidak tersedia, badak tersebut akan memperdalam genangan air dengan kaki dan culanya.
 Badak sumatera hidup di hutan pegunungan, rawa, dan hutan hujan sekunder di dataran rendah maupun dataran tinggi. Badak tersebut mendiami daerah perbukitan yang dekat dengan air, terutama di bagian atas lembah-lembah yang curam dengan semak belukar yang sangat banyak. Badak sumatera pernah tersebar secara berkesinambungan sampai jauh ke utara yakni Birma, India timur, dan Bangladesh. Laporan-laporan yang belum dikonfirmasi juga menyatakan bahwa badak tersebut pernah menghuni Kamboja, Laos, dan Vietnam. Semua hewan yang masih hidup, dan diketahui, tinggal di Semenanjung Malaysia, Pulau Sumatra, dan Sabah, Kalimantan. Beberapa aktivis konservasi berharap badak sumatera masih ada di Birma, meskipun dianggap tidak mungkin. Gejolak politik di Birma telah mencegah setiap penilaian atau penelitian terkait kemungkinan adanya spesies yang masih hidup.

Description: Hasil gambar untuk gambar badak sumatera
KLASIFIKASI
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Sub phylum
Vertebrata
Kelas
Mamalia
Super Ordo
Mesaxonia
Ordo
Perissodactyla
Super Famili
Rhinocerotides
Famili
Rhinocerotidae
Genus
Dicerorhinus
Spesies
Dicerorhinus sumatrensis

2.2  Penyebaran Badak Sumatera.
Pada kehidupan awalnya, rhino sumatera memiliki daerah penyebaran yang cukup luas, yaitu meliputi Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Burma, Kambodya sampai dengan Vietnam. Namun akibat perburuan yang berlangsung terus menerus sejak masa lalu hingga sekarang, maka penyebaran di habitat alamnya menjadi terbatas di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia saja, Sedangkan di Kalimantan dalam beberapa tahun belakangan tidak pernah dijumpai lagi. Jumlah populasi rhino sumatera di kawasan hutan habitat alaminya diperkirakan kurang dari 200 (dua ratus) ekor, dan sebagian besar berada di Sumatera. Di Indonesia penyebaran rhino pada habitat alamnya terdapat dalam kawasan hutan TN Gunung Leuser (Provinsi Nangru Aceh Darusallam), TN Kerinci Seblat (Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan), TN Bukit Barisan Selatan (Provinsi Bengkulu) dan TN Way Kambas (Provinsi Lampung).

2.3   Populasi Badak Sumatera.
Populasi adalah suatu kelompok suatu jenis satwa yang hidup pada wilayah tempat hidup tertentu, misalnya Populasi Harimau Sumatera di kawasan hutan TN Bukit Barisan Selatan-Sumatera. Berdasarkan Analisa Viabilitas Populasi dan Habitat (PHVA) Badak Sumatera tahun 1993, populasi badak Sumatera di Sumatra berkisar antara 215 -319 ekor atau turun sekitar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebelumnya populasi badak Sumatera di pulau Sumatera berkisar antar 400-700 ekor. Sebagian besar terdapat di wilayah Gunung Kerinci Seblat (250-500 ekor), Gunung Leuser (130-250 ekor) dan Bukit Barisan Selatan (25-60 ekor). Sebagian yang lainnya tidak diketahui jumlahnya terdapat di wilayah Gunung Patah, Gunung Abong-Abong, Lesten-Lokop, Torgamba dan Berbak.
Di Kalimantan satu kelompok populasi tersebar di wilayah Serawak, Sabah dan wilayah tengah Kalimantan. Di Malaysia jumlah populasi badak Sumatera diperkirakan berkisar antara 67-109 ekor. Menurut IUCN/SSC - African and Asian Rhino Specialist Group Maret 2001, jumlah populasi badak Sumatera berkisar kurang lebih 300 ekor dan tersebar di Sumatra dan Borneo yaitu Malaya/Sumatra Sumatran Rhino ~ 250 ekor dan Borneo Sumatran Rhino ~ 50 ekor.  Taksiran jumlah populasi badak Sumatera menurut Program Konservasi Badak Indonesia tahun 2001 di wilayah kerja RPU adalah sebagai berikut: TNKS 5 - 7 ekor dengan kerapatan (density) 2500 - 3500 ha per ekor badak, TNBBS 60 - 85 dengan kerapatan 850 - 1200 ha per ekor badak, TNWK 30 - 40 ekor dengan kerapatan 700 - 1000 ha per ekor badak.

2.4.  Habitat Badak Sumatera
Habitat (tempat hidup) badak sumatera adalah pada daerah tergenang diatas permukaan laut sampai daerah pegunungan yang tinggi (dapat juga mencapai ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut). Tempat hidup yang penting bagi dirinya adalah cukup makanan, air, tempat berteduh dan lebih menyukai hutan lebat. Pada cuaca yang cerah sering turun ke daerah dataran rendah, untuk mencari tempat yang kering. Pada cuaca panas ditemukan berada di hutan-hutan di atas bukit dekat air terjun. Senang makan di daerah hutan sekunder. Habitat badak sumatera di Gunung Leuser, terbatas pada hutan-hutan primer pada ketinggian antara 1000-2000 meter diatas permukaan laut.
Badak sumatera merupakan satwa liar yang senang berjalan. Dalam satu harinya, badak ini dapat menempuh perjalanan sejauh 12 (dua belas) kilometer dalam waktu 20 (dua puluh) jam. Separuh jarak tersebut dilakukan pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan aktifitas di siang hari lebih ditujukan untuk mencari atau menuju ketempat berkubang atau berendam di sungai-sungai kecil atau rawa-rawa dangkal. Badak sumatera dewasa dengan berat 800 (delapan ratus) kilogram, mengkonsumsi rata-rata 50 (lima puluh) kilogram dedaunan dan pepucukan tanaman yang berasal dari pohon-pohon muda, rerantingan dan cecabangan pohon yang rendah atau dari semak belukar yang lebat. Jenis badak ini kadang-kadang memakan batang dari tanaman jahe, rotan dan palem. Untuk memperoleh makanan sebanyak tersebut diatas, seekor rhino sumatera memerlukan areal hutan dan semak belukar seluas 5 (lima) sampai 6 (enam) hektar. Dan untuk seekor rhinosumatera dibutuhkan minimal 700 (tujuh ratus) hektar kawasan hutan dan semak belukar sebagai wilayah pengembaraannya.


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Habitat badak sumatera meliputi hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan meskipun umumnya binatang langka ini menyukai hutan bervegetasi lebat. Satwa langka bercula dua ini lebih sering terlihat di hutan-hutan sekunder dataran rendah yang memiliki air, tempat berteduh, dan sumber makanan yang tumbuh rendah.
2. Populasi badak sumatera semakin langka. Menurut data IUCN Redlist populasi badak bercula dua ini berkisar antara 220-275 ekor (1997). Bahkan menurut International Rhino Foundation (Virginia) diperkirakan populasi badak sumatera tidak mencapai 200 ekor (2010).
3. Faktor utama penurunan populasi badak sumatera saat ini adalah berkurangnya habitat akibat deforestasi hutan dan kebakaran hutan. Akibat semakin berkurang dan rusaknya hutan, beberapa tahun terakhir sering kali dilaporkan kemunculan badak bercula dua ini di daerah pemukiman warga dan perkebunan.
4.  Di Sumatra populasi badak sumatera terkonsentrasi di Taman Nasional Bukit Barisan (60-80 ekor), Taman Nasional Gunung Lauser (60-80 ekor), TN. Way Kambas (15-25 ekor), dan Taman Nasional Kerinci Seblat (diperkirakan telah punah). Di Sabah Malaysia diperkirakan memiliki populasi berkisar antara 6-10 ekor. Sedangkan populasi di Kalimantan hingga sekarang belum teridentifikasi.








DAFTAR PUSTAKA

Adi, Marcellus dkk., 2007. Konservasi Badak. Dalam : Power point presentasi bagi peserta Diklat Manajemen KSDA tingkat lanjutan, Agustus 2007. Suaka Rhino Sumatera - Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Alamendah, blog 2010. Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diambang Punah: https://alamendah.org/2010/03/14/badak-sumatera-dicerorhinus-sumatrensis-diambang-punah/. Diakses pada tanggal 11 April 2019

Isnan, M.W. 2006. Laporan Penyelamatan Badak Sumatera Taman Nasional Kerinci Seblat di Bengkulu. Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan – Yayasan Mitra Rhino (YMR) – Yayasan Suaka Rhino Sumatera (YSRS) - International Rhino Foundation (IRF) – Program Konservasi Badak Indonesia
Sumiadi, A., 2008. Serah terima Yayasan Mitra Rhino, Yayasan Suaka Rhino Sumatera dan Program Konservasi Badak Indonesia kepada Yayasan Badak Indonesia
Wikipedia, 2013. Badak Sumatera. Laman web  http://id.wikipedia.org/wiki/Badak Sumatera. Diakses pada tanggal 11 April 2019



KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI ULAT SUTERA (BOMBYX MORI )

Tugas Penilaian Hutan                                         Medan ,           Oktober 2019 KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI  ULAT...