Makalah Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, April
2019
PEMANFAATAN KOMODITI KEHUTANAN
Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis)
Dosen Penanggungjawab :
Oleh :
Sahputra Tindaon
171201119
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR …................................................................................. i
DAFTAR ISI…….............................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang …......................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah
….................................................................................... 2
1.3. Tujuan …..................................................................................................... 2
BAB II. ISI
2.1
Badak Sumatera dan
klasifikasinya............................................................. 3
2.2. Penyebaran Badak Sumatera........................................................................ .4
2.3. Populasi Badak Sumatera............................................................................ .5
2.4. Habitat
Badak Sumatera....................................................................... ........6
BAB III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan ...................................................................................... .7
DAFTAR
PUSTAKA
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga Makalah Ekonomi
Sumberdaya Hutan ini dapat diselesaikan. Judul dalam Makalah ini adalah
“Pemanfaatan Komoditi Kehutanan Badak
Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)”. Penulisan makalah ini bertujuan
untuk memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu mengenai manfaat ekonomi
sumberdaya hutan yang terdapat pada Badak
Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan , Bapak Dr. Agus
Purwoko, S.Hut, M.Si atas arahan dan bimbingannya. Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang konstruktif
sangat diharapkan demi kesempurnaan dan kemajuan bersama. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat.
Medan, April 2019
Penulis
PENDAHULUAN
Di Indonesia
hewan hewan yang terancam punah semakin banyak. Hewan ini menjadi langka dan terancam punah akibat
perubahan kondisi alam, hewan pemangsa
dan juga akibat perburuan yang dilaku kan manusia. Salah satu hewan yang dikategorikan paling langka di Indonesia
adalah badak. Dari 3 jenis badak yang
hidup di Asia, 2 jenis diantaranya hidup di Indonesia. Kedua jenis badak yang terancam punah tersebut yaitu badak jawa
(Rhinoceros Sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhenus sumatrensis). Populasinya di alam saat ini diperkirakan kurang
dari 300 ekor. Meskipun demikian, indikasi yang ada menunjukkan jumlah populasi
sebenarnya lebih rendah dari perkiraan tersebut. Satwa ini termasuk dalam
klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) -
dalam daftar mrah spesies terancam lembaga konservasi dunia, IUCN. Habitat
Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan,
meskipun umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang
sangat lebat. Badak Sumatera adalah penjelajah dan pemakan buah (khususnya
mangga liar dan buah fikus), daun-daunan, ranting-ranting kecil dan kulit kayu.
Mereka lebih menyukai dataran rendah, khususnya di hutan-hutan sekunder di mana
banyak terdapat sumber makanan yang tumbuh rendah. Badak Sumatera hidup di alam
dalam kelompok kecil dan umumnya menyendiri (soliter).
Badak sumatera,
juga dikenal sebagai badak berambut
atau badak Asia bercula dua (Dicerorhinus
sumatrensis), merupakan spesies langka dari famili Rhinocerotidae
dan termasuk salah satu dari lima spesies badak yang masih ada.
Badak sumatera merupakan satu-satunya spesies yang terlestarikan dari genus Dicerorhinus. Badak ini adalah
badak terkecil, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Tingginya
112-145 cm
sampai pundak, dengan panjang keseluruhan tubuh dan kepala 2,36-3,18 m, serta panjang ekornya
35–70 cm. Beratnya dilaporkan berkisar antara 500 sampai 1.000 kg,
dengan rata-rata 700–800 kg, meskipun ada suatu catatan mengenai seekor
spesimen dengan berat 2.000 kg. Sebagaimana spesies badak Afrika, badak
sumatera memiliki dua cula;
yang lebih besar adalah cula pada hidung, biasanya 15–25 cm, sedangkan
cula yang lain biasanya berbentuk seperti sebuah pangkal. Sebagian besar tubuh
badak sumatera diselimuti rambut berwarna cokelat kemerahan. Spesies ini pernah
menghuni hutan hujan,
rawa, dan hutan
pegunungan di India, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Tiongkok. Dalam sejarahnya, badak sumatera dahulu tinggal di
bagian barat daya Tiongkok, khususnya di Sichuan. Mereka sekarang terancam punah, dengan hanya enam populasi yang
cukup besar di alam liar: empat di Sumatra,
satu di Kalimantan, dan satu di Semenanjung Malaysia. Jumlah badak
sumatera sulit ditentukan karena mereka adalah hewan penyendiri yang tersebar
secara luas, tetapi dapat diperkirakan kalau jumlahnya kurang dari 100 ekor.
Ada keraguan mengenai kelangsungan hidup populasinya di Semenanjung Malaysia,
dan salah satu populasi di Sumatra mungkin sudah punah. Jumlah mereka saat ini
mungkin hanya 80 ekor.[8]
Pada tahun 2015, para peneliti mengumumkan bahwa badak sumatera timur di bagian utara
Kalimantan (Sabah,
Malaysia)
telah punah. Dalam sebagian besar masa hidupnya, badak sumatera merupakan hewan
penyendiri, kecuali selama masa kawin dan memelihara keturunan. Mereka
merupakan spesies badak yang paling vokal dan juga berkomunikasi dengan cara
menandai tanah
dengan kakinya.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Penyebab kepunahan Badak
Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)?
2. Bagaimana penyebaran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) ?
3.
Bagaimana populasi Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis) ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk
mengetahui Populasi Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis)
2. Untuk
mengetahui Penyebaran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
3. Untuk mengetahui penyebab Kepunahan
Badak Sumatera (Dicerorhinus
sumatrensis)
BAB II
ISI
2.1 Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis)
Badak
Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu-satunya badak Asia yang
memiliki dua cula. Badak Sumatera adalah badak yang memiliki ukuran terkecil
dibandingkan semua sub-spesies badak di dunia, meskipun masih tergolong hewan
mamalia yang besar. Populasi terbesar dan mungkin paling memadai untuk
berkembang biak (viable) saat ini terdapat di Sumatera, sementara populasi yang
lebih kecil terdapat di Sabah dan Semenanjung Malaysia. populasinya di alam
saat ini diperkirakan kurang dari 300 ekor. Meskipun demikian, indikasi yang
ada menunjukkan jumlah populasi sebenarnya lebih rendah dari perkiraan
tersebut. Satwa ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah
(critically endangered) - dalam daftar mrah spesies terancam lembaga
konservasi dunia, IUCN. Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran
rendah hingga hutan perbukitan, meskipun umumnya satwa langka ini sangat
menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat
Badak
sumatera adalah binatang penyendiri, kecuali pada musim kawin dan selama
membesarkan keturunan. Wilayah jangkauan pejantan
dapat mencapai 50 km2, sedangkan betina 10–15 km2.
Jangkauan para betina tampaknya terpisah oleh jarak, sedangkan jangkauan para
pejantan seringkali saling bersinggungan. Tidak ada bukti yang menunjukkan
bahwa badak sumatera mempertahankan wilayah mereka melalui perkelahian.
Penandaan wilayah masing-masing dilakukan dengan cara menggores tanah dengan
kaki mereka, membengkokkan pohon muda dengan pola yang khas, dan meninggalkan
kotoran. Badak sumatera biasanya paling aktif pada saat makan, pada waktu
fajar, dan sesaat setelah senja. Pada siang hari, mereka berkubang dengan cara
mandi lumpur untuk mendinginkan tubuh dan beristirahat. Saat musim hujan,
mereka pindah ke tempat yang lebih tinggi; pada masa-masa yang lebih dingin,
mereka kembali ke daerah yang lebih rendah dalam wilayah jangkauan mereka.
Kalau lubang lumpur tidak tersedia, badak tersebut akan memperdalam genangan
air dengan kaki dan culanya.
Badak
sumatera hidup di hutan pegunungan, rawa, dan hutan hujan
sekunder di dataran rendah maupun dataran tinggi. Badak tersebut mendiami
daerah perbukitan yang dekat dengan air, terutama di bagian atas lembah-lembah
yang curam dengan semak belukar yang sangat banyak. Badak sumatera pernah
tersebar secara berkesinambungan sampai jauh ke utara yakni Birma, India timur, dan Bangladesh.
Laporan-laporan yang belum dikonfirmasi juga menyatakan bahwa badak tersebut
pernah menghuni Kamboja,
Laos, dan Vietnam.
Semua hewan yang masih hidup, dan diketahui, tinggal di Semenanjung Malaysia, Pulau Sumatra,
dan Sabah,
Kalimantan. Beberapa aktivis konservasi berharap badak sumatera masih ada di
Birma, meskipun dianggap tidak mungkin. Gejolak politik di Birma telah mencegah
setiap penilaian atau penelitian terkait kemungkinan adanya spesies yang masih
hidup.

KLASIFIKASI
Kingdom
|
Animalia
|
Phylum
|
Chordata
|
Sub phylum
|
Vertebrata
|
Kelas
|
Mamalia
|
Super Ordo
|
Mesaxonia
|
Ordo
|
Perissodactyla
|
Super
Famili
|
Rhinocerotides
|
Famili
|
Rhinocerotidae
|
Genus
|
Dicerorhinus
|
Spesies
|
Dicerorhinus
sumatrensis
|
2.2 Penyebaran Badak
Sumatera.
Pada kehidupan awalnya, rhino sumatera memiliki daerah penyebaran
yang cukup luas, yaitu meliputi Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaysia,
Burma, Kambodya sampai dengan Vietnam. Namun akibat perburuan yang berlangsung
terus menerus sejak masa lalu hingga sekarang, maka penyebaran di habitat
alamnya menjadi terbatas di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia saja,
Sedangkan di Kalimantan dalam beberapa tahun belakangan tidak pernah dijumpai
lagi. Jumlah populasi rhino sumatera di kawasan hutan habitat alaminya
diperkirakan kurang dari 200 (dua ratus) ekor, dan sebagian besar berada di
Sumatera. Di Indonesia penyebaran rhino pada habitat alamnya terdapat dalam
kawasan hutan TN Gunung Leuser (Provinsi Nangru Aceh Darusallam), TN Kerinci
Seblat (Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan), TN
Bukit Barisan Selatan (Provinsi Bengkulu) dan TN Way Kambas (Provinsi Lampung).
2.3 Populasi
Badak Sumatera.
Populasi adalah suatu kelompok
suatu jenis satwa yang hidup pada wilayah tempat hidup tertentu,
misalnya Populasi Harimau Sumatera di kawasan hutan TN Bukit Barisan
Selatan-Sumatera. Berdasarkan Analisa Viabilitas Populasi dan Habitat (PHVA)
Badak Sumatera tahun 1993, populasi badak Sumatera di Sumatra berkisar antara
215 -319 ekor atau turun sekitar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Sebelumnya populasi badak Sumatera di pulau Sumatera berkisar antar 400-700
ekor. Sebagian besar terdapat di wilayah Gunung Kerinci Seblat (250-500 ekor), Gunung
Leuser (130-250 ekor) dan Bukit Barisan Selatan (25-60 ekor). Sebagian yang
lainnya tidak diketahui jumlahnya terdapat di wilayah Gunung Patah, Gunung
Abong-Abong, Lesten-Lokop, Torgamba dan Berbak.
Di Kalimantan satu kelompok populasi
tersebar di wilayah Serawak, Sabah dan wilayah tengah Kalimantan. Di Malaysia
jumlah populasi badak Sumatera diperkirakan berkisar antara 67-109 ekor. Menurut
IUCN/SSC - African and Asian Rhino Specialist Group Maret 2001, jumlah populasi
badak Sumatera berkisar kurang lebih 300 ekor dan tersebar di Sumatra dan
Borneo yaitu Malaya/Sumatra Sumatran Rhino ~ 250 ekor dan Borneo Sumatran Rhino
~ 50 ekor. Taksiran jumlah populasi
badak Sumatera menurut Program Konservasi Badak Indonesia tahun 2001 di wilayah
kerja RPU adalah sebagai berikut: TNKS 5 - 7 ekor dengan kerapatan (density)
2500 - 3500 ha per ekor badak, TNBBS 60 - 85 dengan kerapatan 850 - 1200 ha per
ekor badak, TNWK 30 - 40 ekor dengan kerapatan 700 - 1000 ha per ekor badak.
2.4. Habitat Badak Sumatera
Habitat (tempat hidup) badak sumatera
adalah pada daerah tergenang diatas permukaan laut sampai daerah pegunungan
yang tinggi (dapat juga mencapai ketinggian lebih dari 2000 meter di atas
permukaan laut). Tempat hidup yang penting bagi dirinya adalah cukup makanan,
air, tempat berteduh dan lebih menyukai hutan lebat. Pada cuaca yang cerah
sering turun ke daerah dataran rendah, untuk mencari tempat yang kering. Pada
cuaca panas ditemukan berada di hutan-hutan di atas bukit dekat air terjun.
Senang makan di daerah hutan sekunder. Habitat badak sumatera di Gunung Leuser,
terbatas pada hutan-hutan primer pada ketinggian antara 1000-2000 meter diatas
permukaan laut.
Badak sumatera merupakan satwa liar yang
senang berjalan. Dalam satu harinya, badak ini dapat menempuh perjalanan sejauh
12 (dua belas) kilometer dalam waktu 20 (dua puluh) jam. Separuh jarak tersebut
dilakukan pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan aktifitas di siang
hari lebih ditujukan untuk mencari atau menuju ketempat berkubang atau berendam
di sungai-sungai kecil atau rawa-rawa dangkal. Badak sumatera dewasa dengan
berat 800 (delapan ratus) kilogram, mengkonsumsi rata-rata 50 (lima puluh)
kilogram dedaunan dan pepucukan tanaman yang berasal dari pohon-pohon muda,
rerantingan dan cecabangan pohon yang rendah atau dari semak belukar yang lebat.
Jenis badak ini kadang-kadang memakan batang dari tanaman jahe, rotan dan
palem. Untuk memperoleh makanan sebanyak tersebut diatas, seekor rhino sumatera
memerlukan areal hutan dan semak belukar seluas 5 (lima) sampai 6 (enam)
hektar. Dan untuk seekor rhinosumatera dibutuhkan minimal 700
(tujuh ratus) hektar kawasan hutan dan semak belukar sebagai wilayah
pengembaraannya.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Habitat
badak sumatera meliputi hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan
meskipun umumnya binatang langka ini menyukai hutan bervegetasi lebat. Satwa
langka bercula dua ini lebih sering terlihat di hutan-hutan sekunder dataran
rendah yang memiliki air, tempat berteduh, dan sumber makanan yang tumbuh
rendah.
2. Populasi badak sumatera
semakin langka. Menurut data IUCN Redlist populasi badak bercula dua ini
berkisar antara 220-275 ekor (1997). Bahkan menurut International Rhino
Foundation (Virginia) diperkirakan populasi badak sumatera tidak mencapai
200 ekor (2010).
3. Faktor utama penurunan
populasi badak sumatera saat ini adalah berkurangnya habitat akibat deforestasi hutan dan kebakaran hutan. Akibat semakin berkurang
dan rusaknya hutan, beberapa tahun terakhir sering kali dilaporkan kemunculan
badak bercula dua ini di daerah pemukiman warga dan perkebunan.
4. Di Sumatra populasi
badak sumatera terkonsentrasi di Taman Nasional Bukit Barisan (60-80 ekor),
Taman Nasional Gunung Lauser (60-80 ekor), TN. Way Kambas (15-25 ekor), dan
Taman Nasional Kerinci Seblat (diperkirakan telah punah). Di Sabah Malaysia
diperkirakan memiliki populasi berkisar antara 6-10 ekor. Sedangkan populasi di
Kalimantan hingga sekarang belum teridentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, Marcellus dkk., 2007. Konservasi
Badak. Dalam : Power point presentasi bagi peserta Diklat Manajemen KSDA
tingkat lanjutan, Agustus 2007. Suaka Rhino Sumatera - Taman Nasional Way
Kambas, Lampung.
Alamendah, blog 2010. Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diambang Punah: https://alamendah.org/2010/03/14/badak-sumatera-dicerorhinus-sumatrensis-diambang-punah/.
Diakses pada tanggal 11 April 2019
Isnan, M.W. 2006. Laporan
Penyelamatan Badak Sumatera Taman Nasional Kerinci Seblat di Bengkulu. Direktorat
Jenderal PHKA Departemen Kehutanan – Yayasan Mitra Rhino (YMR) – Yayasan Suaka
Rhino Sumatera (YSRS) - International Rhino Foundation (IRF) – Program
Konservasi Badak Indonesia
Sumiadi, A., 2008. Serah
terima Yayasan Mitra Rhino, Yayasan Suaka Rhino Sumatera dan Program Konservasi
Badak Indonesia kepada Yayasan Badak Indonesia
Wikipedia, 2013. Badak Sumatera.
Laman web http://id.wikipedia.org/wiki/Badak
Sumatera. Diakses pada tanggal 11 April 2019
