KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI
ULAT SUTERA (BOMBYX
MORI )
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh :
Sahputra Tindaon
Sahputra Tindaon
171201119
Budidaya Hutan 5
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ulat sutera adalah ngengat yang memiliki kelenjar sutera
sehingga dapat menghasilkan serat sutera. Siklus hidup ulat sutera cepat, hal
ini menunjukan bahwa memproduksi benang sutera tidak membutuhkan waktu lama,
dan memiliki nilai ekonomi tinggi..
Kingdom :
Animalia
Filum
: Arthropoda
Sub Filum :
Mandibulata
Klass
:
Insecta
Sub Klass : Pterygota
Ordo
:
Lepidoptera
Family
:
Bombycidae
Genus
:
Bombyx
Produksi benang mentah pada tahun 2007 sebesar 65.194
kg/tahun, akan tetapi tahun 2009 mengalami penurunan yaitu 19.212 kg/tahun.
Penurunan dipengaruhi keadaan cuaca dan kualitas bibit. Persilangan merupakan
salah satu penyelesaian untuk mendapatkan bibit yang berkualitas.Persilangan
resiprokal merupakan persilangan untuk mendapatkan bibit unggul. Persilangan
resiprokal adalah persilangan dihibrid, yang terdiri dari bibit murni. Bibit
unggul menghasilkan kokon berkualitas, sehingga memiliki harga jual tinggi.
Pemeliharaan ulat yang intensif menghasilkan kokon yang berkualitas,
pertumbuhan ulat sangat mempengaruhi hasil kokon. Pertumbuhan ulat dengan bobot
badan tinggi akan menghasilkan kokon yang tebal. Kokon ras Jepang memiliki
kokon tebal, produksi kokon tinggi, tetapi rentan terhadap penyakit. memilik
lapisan tipis, produksi kokon rendah, dan tahan penyakit.
Pakan ulat sutera perlu diperhatikan
pemeliharaan ulat sutera. Sumber pakan ulat
sutera harus selalu tersedia setiap saat ketika larva membutuhkan. Pertumbuhan
larva, perkembangan larva dan reproduksinya tergantung
dari kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi. Ulat sutera yang memakan
daun murbei akan menghasilkan kokon dengan
karakter sutera yang berkualitas. Larva ulat sutera mempunyai
tanduk anal yang pendek dan memakan daun murbei (Morus sp.). Ulat sutera
memiliki bentuk tubuh yang berwarna putih, serta berbulu. Ulat sutera dapat
melalukan molting (berganti kulit) pada saat memasuki instar baru. Tubuh ulat
sutera dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu kepala, dada dan perut. Pada
bagian kepala memiliki antenna yang terdiri dari tiga segmen pendek, dan bagian
mulut terletak ke bawah dan di depan wajah yang terdiri dari sepasang rahang
dengan maksila dengan labrum dan labium. Pada bagian perut terdiri dari tiga segmen
dengan sepasang spirakel dan tiga pasang kaki toraks.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana karateristik dari ulat sutera (Bombyx mori )
2.
Bagaimana
karakteristik bibit yang bagus dalam perkembangan ulat sutera?
3.
Apa saja manfaat ekonomi dari
Ulat sutera (Bombyx
mori )
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui karakteristik dari Ulat sutera
2. Untuk
mengetahui karateristik bibit yang bagus dalam perkembangan Ulat sutera
3. Untuk mengetahui apa saja manfaat ekonomi
dari ulat sutera
BAB II
ISI
2.1 Karateristik
Ulat sutera memiliki panjang hingga 10 cm
dengan diameter hingga 0,8 cm sebelum menjadi kepompong. Ulat ini juga
mempunyai metamorfosis sempurna, dengan setiap generasi melewati 4 stadia, yakni
telur, larva atau ulat, pupa, dan ngengat atau kupu-kupu. Pada stadia larva,
ulat sutera hanya memakan daun murbei segar yang tidak terkena bahan kimia
apapun. Masa ini sebenarnya merupakan masa yang sangat penting untuk sintesis
protein sutera dan pembentukan telur. budidaya ulat sutera bisa dibilang
susah-susah gampang. Syarat utama budi daya hewan ini yakni penanaman pohon
murbei yang luas sebagai pakan utama. Ulat sutera juga tidak menyukai
wangi-wangian dan hidup di ruang yang tenang dan tidak berisik sehingga kandang
pemeliharaannya ditempatkan jauh dari jalan raya.

Jenis sutra yang paling digemari adalah
sutra yang berasal dari kepompong larva ulat sutra murbei (jenis Bombyx mori).
Produk hewan alami ini sangat berharga karena kehalusan, kekuatan, dan
kemampuan daya isolasinya. Kilauan yang dihasilkan oleh fiber sutra dikarenakan
oleh struktur prisma-segitiga didalamnya sehingga memantulkan cahaya dari
berbagai sudut.
2.2 karateristik
bibit yang bagus dalam perkembangan Ulat sutera
Bibit ulat sutera yang akan
dibudidayakan diperoleh dari produsen bibit ulat sutera dalam bentuk telur.
Telur ulat sutera yang berukuran sangat kecil, yaitu lebar sekitar 1 mm,
panjang 1,3 mm, tebal 0,5 mm dan berat sekitar 0,5 mg menjadikannya sangat rentan
sehingga perlu penanganan yang tepat dalam proses penetasan.
Proses penetasan ulat sutera dilakukan dengan melakukan inkubasi pada telur. Inkubasi telur adalah masa perkembangan telur sebelum menetas. Pada proses inkubasi lingkungan dikondisikan sedemikian rupa untuk merangsang penetasan telur ulat sutera. Agar diperoleh presentase penetasan yang tinggi dan penetasan yang serempak, maka temperatur dan kelembapan ruangan inkubasi harus diatur agar mencapai kondisi yang ideal.
Proses penetasan ulat sutera dilakukan dengan melakukan inkubasi pada telur. Inkubasi telur adalah masa perkembangan telur sebelum menetas. Pada proses inkubasi lingkungan dikondisikan sedemikian rupa untuk merangsang penetasan telur ulat sutera. Agar diperoleh presentase penetasan yang tinggi dan penetasan yang serempak, maka temperatur dan kelembapan ruangan inkubasi harus diatur agar mencapai kondisi yang ideal.
Sebelum melakukan proses inkubasi
pada telur ulat sutera, terlebih dahulu perlu diketahui ciri-ciri telur yang
dapat menetas. Ciri- ciri tersebut adalah :
·
Telur ulat sutera mengalami beberapa tahap perkembangan dan
pertumbuhan embrio yang ditandai
dengan terjadinya perubahan warna pada telur selama masa inkubasinya. Telur
yang mengalami perubahan warna memiliki kemungkinan besar untuk dapat menetas.
·
Telur yang baru dikeluarkan oleh induknya berwarna kuning
muda pada saat pertama diletakan.
· Setelah
treatment (perlakuan), warna telur berangsur berubah menjadi kuning tua,
kemudian berwarna coklat muda, coklat tua, hitam, abu-abu tua, abu-abu muda. ·
Telur
yang tidak mengalami pembuahan oleh sperma dari induk jantan warnannya tetap
kuning muda dan tidak terjadi perubahan warna karena tidak ada pertumbuhan
embrio.
Adapun cara inkubasi telur ulat sutera adalah sebagai
berikut :
·
Selama inkubasi diperlukan temperatur ruangan 25oC dengan
kelembapan 85 % dan pencahayaan 18 jam terang, 6 jam gelap. Untuk mengetahui
kekuatan cahaya yang tepat dalam proses inkubasi yaitu diukur dengan kondisi
manakala kita masih dapat membaca diruangan itu.
·
Telur yang diterima dari produsen dikeluarkan dari boksnya
kemudian dipindahkan ke kotak penetasan yang lebih besar degnan ukuran 30 x 40 cm.
Kemudian kotak tersebut dipasangkan jaring penetasan. Jika volume telur yang
akan ditetaskan cukup banyak, semua kotak penetasan diletakan pada rak
inkubasi. Untuk mengatur pencahayaan, jika perlu disekeliling kotak penetasan
dipasang tirai berwarna hitam.
·
Untuk mempertahankan kelembapan dengan kadar 85%, kotak
penetasan diletakan diatas kain basah.
·
Dua hari sebelum menetas (H-2), keadaan ruangan harus gelap
total. Tirai ditutup, lampu ruangan dipadamkan.
·
Pada hari H tanggal menetas, agar penetasannya serempak,
pagi-pagi sekali (pukul 05:00 ) , lampu ruangan dinyalakan dan tirai
dibuka.
·
Sekitar pukul 8 pagi ulat yang baru menetas dan sudah berada
diatas jaring penetasan, diangkat dari kotak penetasan. Lalu, ulat dipindahkan
ke sasak pemeliahraan ulat untuk dilakuakan pemberian makan yang pertama kali
(haketate).
·
2.3 Manfaat ekonomi Ulat sutera
Ulat sutra yang biasanya memakan daun
murbei kini dibudidayakan dengan memakan daun singkong karet. Kendati daun singkong
karet lebih murah, namun ulat tersebut ternyata mampu menghasilkan serat. Jika
dipintal ternyata bisa menjadi kain sutra yang kualitasnya sama bagusnya dengan
ulat sutra pemakan daun murbei.Kepompong ulat sutra atau disebut juga kokon,
ternyata tengah diupayakan oleh tim peneliti untuk dijadikan komponen utama
obat penambah stamina. Kalau untuk membuat benang sutra alami, kokon
atau kepompongnya yang dimanfaatkan. Sementara ulatnya
sendiri ternyata memiliki khasiat yang cukup banyak karena mengandung protein
sangat tinggi. Nilai ekonomis ulat sutra sangat tinggi dan dapat menambah
prekonomian masyarakat.
Manfaat serat sutera
antara lain untuk bahan pakaian yang bermutu tinggi seperti bahan pakaian
wanita, kaus kaki wanita, dasi, sapu tangan, untuk keperluan alat - alat rumah
tangga seperti kain gorden, seprei, untuk benang jahit, benang sulam, isolasi
listrik, kain parasut, senar alat - alat musik, dan lain-lain. Kain sutera
terkenal karena keindahan dan kehalusannya. Pakaian dari kain sutera walaupun
mahal tetap saja diminati. Ulat sutera mengeluarkan air ludah atau liur yang
mengandung protein, itulah bahan pembentukan kokon. Kokon berfungsi sebagai
pelindung dari proses perubahan ulat menjadi kepompong sebelum akhirnya menjadi
dewasa. Kokon-kokon ini dikumpulkan, kemudian diolah menjadi benang sutera.
Selanjutnya benang ini ditenun menjadi kain Disamping menghasilkan kain sutera
ulat sutera bermanfaat pula dalam penelitian biologi, ekologi, genetika,
fisiologi dan kimia. Manfaat serat sutera adalah sebagai tekstil yang bermutu
tinggi, bahan baku payung udara (parasut) dan benang bedah sutera.
Dalam waktu 25 hari - 32 hari, Anda sudah bisa memanen hingga
20 kg kepompong sutera mentah. Rata-rata, satu kokon akan menghasilkan benang
sutera sepanjang 1 kilometer. Apabila bibit, pakan, cuaca, dan rumah
pemeliharaan ulat mendukung, panen bisa meningkat hingga 40 kg. Masa panennya
memang cepat lantaran siklus hidup ulat sutera sejak bayi hingga masa kawin
serta bertelur, hanya berlangsung selama sekitar satu bulan, Selain masa panen
yang cepat, budidaya ulat sutera juga tak memerlukan lahan yang luas-luas amat.
Anda hanya membutuhkan lahan tempat pembesaran ulat sutera seluas 20 meter
persegi (m2) sampai 50 m2. Cuma, memang, ulat sutera lumayan rakus melahap daun
murbei segar. Minimal, Anda harus menyediakan satu ton daun murbei segar
sebagai konsumsi sekitar 25.000 ulat sutera dalam satu siklus atau sejak telur
menetas hingga menjadi kepompong.
Selain bisa dimanfaatkan sebagai bahan kain sutra, kepompong
ulat sutra atau disebut juga kokon juga dimanfaatkan dalam dunia kecantikan
yaitu sebagai bahan pengamplas kulit (scrub) alami. Dari 1 hektar kebun murbei
bisa menghasilkan daun murbei untuk menyuplai makanan sebanyak 3 box
telur ulat sutra,. Tiap 10 kg kepompong basah akan menghasilkan 1 kg benang
sutra, dan rata-rata 1 kg benang sutra bisa menghasilkan 10 meter kain.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1. Ulat sutera (Bombyx
mori) adalah ngengat yang memiliki
kelenjar sutera sehingga dapat
menghasilkan serat sutera.
2. Ulat sutera memiliki panjang hingga 10 cm dengan
diameter hingga 0,8 cm sebelum menjadi kepompong. Ulat ini juga mempunyai
metamorfosis sempurna, dengan setiap generasi melewati 4 stadia, yakni telur,
larva atau ulat, pupa, dan ngengat atau kupu-kupu
3. Ulat sutera dimanfaatkan sebagai
bahan kain sutra, kepompong ulat sutra atau disebut juga kokon juga
dimanfaatkan dalam dunia kecantikan yaitu sebagai bahan pengamplas kulit
(scrub) alami.
4 Proses
penetasan ulat sutera dilakukan dengan melakukan inkubasi pada telur. Inkubasi
telur adalah masa perkembangan telur sebelum menetas..
5. Ulat
sutera (Bombyx mori L.) merupakan salah
satu jenis serangga yang mempunyai nilai
ekonomi tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Anynomous.2012.culat sutera. universitas
sumatera utara (online):tidak dipublikasikan. diakses pada sabtu, 20
september 2014.
Nuraeni,S dan Beta,P.2012. aspek
biologis ulatsutera (bombyx mori l.) dari dua sumber bibit di sulawesi selatan.jurnal
perennial.vol.4(1): 10-17.
Nunuh,A.2012.serikultur budidaya
sutera alam(online): k dipublikasikan. diakses pada sabtu,20
september 2014.
